Kritisi Kasus Ge Pamungkas dan Semisalnya, Netizen Ini Ungkap Daftar “Dosa“ Pelawak Saat Kehabisan Bahan

Baca Juga 



  Yes  Muslim  - Kriti kasus Ge Pamungkas dan semisalnya, akun fb Salman Faris (7/1) menuliskan daftar kesalahan yang dibuat pelawak saat ini saat "kehabisan bahan" lawak. Berikut postingan nya:



Setelah agak sejuk dan dingin, seorang pelawak berulah lagi. Dalam materi lawakan yang mungkin ia namakan seni tersebut ia menghina konsep yang berkaitan dengan i'tikad muslim dalam menghadapi cobaan/musibah. Namun, karena ia artis tentunya punya pemuja, persoalan ini menjadi menggema sedikit lebih lama.

Ada pepatah berbunyi, jika ada buah yang jatuh, akan ada saja yang memungut. Kendati ia kadang busuk dan sisa dimakan hewan. Demikian di era hubungan fans dan idola seperti sekarang ini, seorang artis "sejelek apa pun" pasti punya penggemar. Entah ia digemari karena kebaikan, full talenta, bahkan ada juga tipikal yang digemari justru karena sisi negatifnya.

Lebih ekstrim lagi-di beberapa kajian filsafat- hubungan pemujaan fans terhadap idolanya konon linear dengan rangkaian pencarian tuhan. Konon manusia memiliki naluri mensucikan dan memuja sesuatu yang di luar dirinya. Manusia memuja ruh, arwah, benda suci sudah menjadi tipikal pencarian manusia Sejak Zaman politeisme, berlannjut monoteisme lalu pemujaan berpindah keapda anak dewa ataupun manusia setengah dewa smacam manusia mitologis hercules.

Dan masih menurut kajian tersebut zaman sekarang penyembahan tersebut beralih kepada sesama manusia berupa idola yang mayoritasnya adalah artis. Tentu dengan beberapa lubang kelemahan, teori tersebut secara emosi mungkin dianggap punya fakta saat ini.

Oleh karenanya, banyak sebenarnya sepak terjang artis terutama pelawak yang tidak indah dan tidak elok, namun tetap diikuti oleh fans-nya. Bahkan seakan nilai dan norma itu sudah menguap dengan berkibarnya launcing era zaman now yang sudah sangat milenial. Semua memuja idolanya atas dasar seni.

Berbicara tentang "art" dan artis Islam memiliki pandangan yang khas. Seni harus berdasarkan akidah islam. Dan sebagai bagian dari perbuatan manusia maka seni harus mematuhi rambu nilai dan dalil dalam islam. Di sinilah khasnya. Sehingga di dalam kaidah disebutkan bahwa asal perbuatan hamba adalah terikat dengan hukum syar’i. Seorang muslim harus mengetahui hukum Allah tentang suatu perbuatan sebelum mereka mengerjakannya.

Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya: “Maka demi Tuhanmu, sungguh Kami akan menanyai mereka semua, tentang apa saja yang pernah mereka lakukan.” (Al-Hijr ayat 92 dan 93)

Imam Ats-Tsa’labi di kitab tafsir beliau menjelaskan bahwa Allah akan menanyai semua manusia di hari kiamat tentang perbuatan mereka di dunia (Tafsir Ats-Tsa’labi Juz 5 halaman 354). Sedangkan Imam Al-Qurthubi menyimpulkan bahwa ayat ini berlaku umum untuk seluruh pertanyaan yang merupakan hisab bagi orang-orang kafir dan mu’min, kecuali orang-orang yang masuk surga tanpa hisab (lihat tafsir al-Qurthubi Juz 12 halaman 258-260.

Oleh karenanya walaupun profesi lawak itu membutuhkan totalitas, tetap saja totalitas tersebut harus patuh terhadap nilai ketuhann dan akidah Islam. Tidak bisa dipisahkan. Oleh sebab itu di dalam sistem islam (Khilafah) departemen i'lam (Penerangan) akan mengatur media dan konten-nya agar semata mata sesuai dengan syariah dan nilai yang berasal dari akidah yang lurus dan bersih.

Di Indonesia, sejak munculnya SUCI yang berawal dari sebuah stasiun tv, lawakan jenis stand up comedy menjadi sedikit naik kelas. Ada lawakan segar menghibur yang sampai kepada khalayak. Di antaranya ada yang cukup edukatif dan bisa mentransfer nalar yang sehat.

Namun yang perlu dicermati ada beberapa pelanggaran dalam prakteknya saat mereka mulai "kehabisan bahan". Sepertinya pada momen tersebut para pelawak ini mesti sedikit mengontrol diri agar tidak liar dan cacat adab dalam mencari penghidupan. Karena akan justru kontras dengan “niat baik nya” ingin menghibur orang dan menghadirkan keceriaan. Atau setidaknya husnu zhon kita berkata demikian. Ada baiknya ini menjadi catatan agar "lawak berdiri" ini tidak jatuh menjadi aktivitas rendah seperti pepatah "kencing berdiri".

Beberapa diantara kekeringan adab dunia lawak sambil berdiri ini terutama jika habis bahan lawakan adalah:

a. Menghina takdir terutama fisik.


Diantaranya bahkan menjadikan penghinaan terhadap fisik tersebut menjadi bahan utama lawakan. Padahal yang disebut dengan Qadha’ itu di luar kendai manusia dan tidak boleh kita menghhina ciptaan Allah subhanahu wa taala.

b. Berbohong

Tidak jarang pelawak atau komika tersebut berbohong demi membuat tertawa penonton. Mereka bercerita sesuatu yang sebenarnya ia tidak pernah mengalaminya. Atau dalam bentuk improvisasi percakapan yang dibuat-buat sehingga menimbulkan kesan lucu. Padahal kisah aslinya tidak lah demikian.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar”. (HR. At-Thabrani)

“Celakalah orang yang berbicara lantas berdusta untuk sekedar membuat orang-orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Na’udzubillah.

c. Menghina Islam di dalam materi lawak.

Ada pula kasus (seperti yang sekarang sedang diboikot netizen seantero negeri) seorang artis lawak menghina islam dengan ucapan ketidak percayaan konsep bahwa Allah subhanahu wa taala menguji hambanya yang beriman. Videonya ada terpublikasi luas.

Isi nya jelas penghinaan. Sebab di dalam Islam musibah memang bisa jadi cobaan untuk pembuktian keimanan. Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan "Kami telah beriman " sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al Ankabut : 2).

Allah tidak begitu saja percaya jika seseorang mengatakan kami telah beriman. Dari ayat di atas Allah menguji seseorang dengan untuk mengetahui pembuktian pengakuan kebenaran iman mereka.

Bahkan dibeberapa nash disebutkan cobaan untuk menebus dosa kita.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang artinya, “Siapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan, maka diberiNya cobaan” (HR Bukhari).

Dan di hadits yang lain:

“Tiada henti-hentinya cobaan menimpa mukmin, baik mengenai dirinya, keluarganya, hartanya, hingga dia menghadap Allah dalam keadaan bersih dari dosa” (HR Tirmidzi).


Demikian lah, cobaan memang menjadi jalan manusia untuk berubah menjadi lebih baik. Dalam islam demikian. Tak perlu diprotes. Apalagi di hina dipanggung lawakan.

Masih pada kasus pelawak yang sama, ada poin yang jika dicermati adalah sperti ia meludah dan menjilat kembali ludahnya sendiri sebelum ludahnya sampai menyentuh tanah. Ia mengkritik orang yang mungkin menjadi seteru dia dalam politik praktis-yang ia sebutkan membawa-bawa agama dan keyakinan dalam menyikapi segala sesuatu termasuk politik.

Ia juga selanjutnya mengungkapkan ketidaksukaannya kepada pihak (yang sama) yang sering mengaitkan segala sesuatu dengan politik. Padahal di saat yang sama ia sedang tersesat dan menyesatkan orang dengan pandangan politik hoax nya yang sudah sama diketahui. Bahkan secara tidak sopan dan tanpa adab Membawa materi politik yang kental bahkan agama orang ke panggung lawakan nya dia. Bah!?

d. Menyerang islam

Yang lebih serius lagi, mereka menghina Islam dan ulama di luar panggung. Entah ada dendam apa mereka terhadap Islam dan ulama. Seakan sudah menjadi tugas mereka untuk beropini tentang islam. Padahal hoax dan tendensius. Sudah berkali-kali di buktikan.

Jadi, sepertinya ada yang salah dengan dunia lawak dan pelawak berdiri ini. Entah karena mereka merasa dirinya bisa berkarya diatas rata-rata sehingga bebeas nilai tak tersentuh norma dan hukum. Padahal jika dilihat karyanya baik lawak maupun diluar lawak tetap saja mayotritasnya mengandung konten negatif.

Pemujaan hawa anfsu, profokasi cinta-cintaan yang meracuni generasi muda sehingga mereka jatuh ke dalam keadaan gila syahwat dan tak tau jalan pulang, kecuali setelah mendapat alarm serius seperti hamil di luar nikah dan seks bebas yang berakhir di stadium HIV/AIDS.

Ataukah karena memang ada pihak-pihak di belakang para pelawak berdiri ini, yang memprovokasi dan memberikan bisikan sebagai kawan untuk mengeruhkan suasana dengan menyerang islam. Sejalan pula dengan beberapa kasus kembalinya artis yang sebelumnya telah hijrah kemballi melakukan aktivitas menghibur yang tidak syar’i. Juga kasus artis yang kontroversial terkait kerudung dan hijabnya. Semakin kuat pula dugaan ini.

Kami hanya ingin menyampaikan kepada kawan-kawan pelawak, jika memang kalian kekurangan bahan untuk melawak minimal jangan menjadikan Islam sebagai bahan lawakan. Dan bagi yang muslim jangan lah dengan alasan totalitas kemudian menjadi pelawak yang tidak lucu. Bagaimana mungkin menghina agama bisa dianggap lucu??!!

Allahu a’lam.

#LawakanTakLucu
#PelawakTakElok
#StopHoax

#KhilafahAjaranIslam
#BimaBumiDakwah[www.tribunislam.com



Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer
--------------------------------------------------------------
" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top